Pertanian

Krisis Harga Tomat : Petani Kare Geruduk Pendopo, Sempat Dihadang Orang Tak Dikenal

MADIUN, topiknews.media – Krisis harga tomat yang anjlok drastis hingga hanya Rp. 2.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp12.000 per kilogram, kian menjerat petani di Kabupaten Madiun. Banyak hasil panen terpaksa dibiarkan membusuk di lahan karena tidak terserap pasar. Menyikapi kondisi tersebut, puluhan petani dari Kecamatan Kare nekat mendatangi Pendopo Ronggo Jumeno, Caruban, pada Jumat (3/10/2025).

Namun, perjalanan menuju pendopo tidak berjalan mulus. Ketua Kelompok Tani Makmur Bersama, Darsianto, mengungkapkan bahwa rombongan sempat dihadang oleh tiga orang tak dikenal yang mencoba mengalihkan tujuan distribusi tomat.
“Kami dicegat di jalan dan diarahkan agar tomat tidak dibawa ke pendopo, melainkan ke salah satu rumah makan di kawasan Terminal Caruban,” jelasnya dengan nada tegas.

Meski mendapat hambatan, rombongan petani tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Pendopo Ronggo Jumeno. Di lokasi, mereka diterima langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperindagkop-UM) Kabupaten Madiun, Indra Setyawan, SE., M.Si.

“Kami memang belum melakukan koordinasi resmi sebelumnya, tetapi tujuan kami jelas: memperjuangkan nasib petani agar hasil panen bisa ditampung pemerintah daerah,” tegas Darsianto.

Ia menambahkan, tuntutan tersebut selaras dengan instruksi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang sebelumnya meminta agar pemerintah kabupaten/kota dapat menyerap sebagian hasil panen petani.
“Kami tidak meminta semua hasil panen diambil, cukup 30 sampai 40 persen saja sudah sangat membantu agar petani bisa bertahan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk kekecewaan, Darsianto bahkan sempat menumpahkan satu karung tomat busuk di depan pendopo. Ia juga memberikan ultimatum: bila tidak ada langkah nyata, petani siap mengerahkan massa lebih besar untuk kembali mendatangi pendopo.

Dari hasil pertemuan, tercatat sekitar 2,2 ton tomat berhasil diserap dan dibawa ke Dinas Perdagangan. Namun, menurut Darsianto, masih ada sekitar 20 ton tomat yang menunggu kepastian penyerapan.

Menanggapi desakan petani, Indra Setyawan menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi penyerapan hasil panen. “Kami akan membantu menyalurkan tomat kepada pembeli dengan harga Rp4.000 per kilogram. Selain itu, kami juga akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait agar hasil panen petani dapat terserap lebih optimal,” ujarnya.

Krisis tomat ini menjadi cermin rapuhnya tata niaga pertanian di tingkat daerah. Petani kerap menjadi pihak paling dirugikan ketika harga anjlok, sementara solusi pemerintah seringkali datang terlambat. Insiden penghadangan petani Kare di tengah perjuangan mereka pun menambah catatan serius: ada pihak-pihak yang patut dipertanyakan keberpihakannya di balik penderitaan rakyat kecil.(GN).

Artikel Terkait

Back to top button